Resensi Novel Keberangkatan.
Resensi Novel Keberangkatan Karya Nh. Dini
Judul :
Keberangkatan.
Penulis : Nh. Dini.
Terbit : 1977.
Cetakan :
ke-2.
Tebal Buku :
229 Halaman.
ISBN : 978-979-22-5836-3.
Resensi.
Novel ini berkisah
tentang Elisa Frissart, gadis keturunan Belanda yang jatuh cinta kepada lelaki
jawa. Pada umurnya yang ketujuh belas tahun ia memutuskan untuk tidak tinggal
dengan orang tuanya lagi. Sikap ibunya yang terlalu keras membuat Elisa tidak
betah di dalam rumah. Tangannya sangat ringan, sering menampar muka atau kepala
dua anak-anaknya. Rumah orang tua baginya merupakan suatu kungkungan. Ia
menempati sebuah kamar sempit di suatu rumah pondokan dengan pegawai Garuda
lainnya. Elisa beruntung hanya menunggu beberapa minggu, ia telah mendapat
pekerjaan.
Sejak pemerintah
membuka pintu keluar bagi keluarga-keluarga berbangsa belanda maupun yang
bersimpati kepadanya. Banyak pegawai yang diambil alih. Sejak terbentuknya
organisasi pemerintah yang mengurus nasib orang asing, orang tua Elisa yang
memiliki nama belanda turut masuk menjadi warga negara. Waktu itu tidak ada
keharusan untuk berganti nama. Pemerintah hanya membagikan kartu bukti kepada
keluarganya, yang memakai potret dan tulisan pengesahan kewarganegaraan. Begitu keputusan pihak
atasan diumumkan muncullah demostrasi-demostrasi kebencian terhadap orang
asing. Adik-adik Elisa menerima segala macam celaan dan ejekan. Warung-warung
menolak mereka. Akhirnya semua godaan dan ketakutan itu tidak dapat dilawan.
Orang tuanya memutuskan akan
meninggalkan Indonesia. Tetapi Elisa tidak ingin ikut bersama mereka.
Berkali-kali ayahnya berusaha membujuknya agar ikut bersamanya. Tidak
sedikitpun terlintas dipikirannya untuk ikut.
Lansih teman pondoknya memperkenalkan
Elisa pada sepupu laki-lakinya. Pertemuannya dengan Sukoharjito menjadi penentuan
jalan hidup selanjutnya. Mereka tidak pernah membuat perjanjian, tetapi setiap
pertemuan yang serba singkat menjadi sesuatu yang diharapkan Elisa. Setelah
setahun merajut kasih, tak ada tanda-tanda dari Sukoharjito untuk menikahinya,
walau Sukoharjito sudah mengenalkannya pada keluarga besarnya di Solo. Namun
Elisa masih diliputi tanda tanya yang besar. Lalu tiba-tiba Elisa mendapat
kabar mengejutkan bahwa Suko akan menikah dengan keponakan ajudan presiden.
Betapa terkejut dan terpukulnya Elisa. Selama ini ia memberikan segenap hatinya
untuk pria tersebut tapi lantas pria tersebut malah meninggalkannya dan itu
membuat hatinya sangat hancur.
Belakangan diketahui
bahwa ternyata pernikahan itu dikarenakan si wanita yang sudah hamil duluan.
Betapa terkejutnya Elisa dan sahabat-sahabatnya mendengar hal itu. Lansih
mengatakan betapa beruntungnya Elisa tidak sampai seperti wanitai itu,
sejauh-jauhnya Elisa hanya dicium. Elisa sendiri memang tidak mengikuti gaya
pergaulan gadis Indo yang pergaulannya lebih bebas. Elisa memegang teguh adat
Indonesia yang hanya akan menyerahkan kegadisan setelah menikah.
Selain masalah
percintaan, Elisa juga dihantui masalah siapa ayah kandungnya, sebab
berdasarkan cerita yang ia dapat, ibunya adalah seorang petualang cinta, meski
sudah menikah. Rangkaian cerita menuntunnya menemukan Talib, pelukis yang dulu
diangkat oleh ayahnya, Fred Frisaart, dan ternyata jatuh cinta pada ibunya.
Talib muda sangat menyayangi Elisa dan turut mengasuhnya selama di Surabaya
sebelum keluarga Frisaart pindah ke Jakarta. Itulah mengapa Elisa sempat
mengira Talib adalah ayahnya.
Setelah terpuruk karena patah hati, Elisa sempat kehilangan gairah hidupnya. Hingga suatu hari ia berkenalan dengan Gail, seorang wartawan asing yang bertugas di Jakarta. Gail sendiri ternyata menaruh hati pada Elisa. Namun, dikala hendak menjalin kasih, Elisa malah memutuskan untuk kembali ke Belanda, mengikuti keluarganya. Gail sangat sedih tapi tidak berarti dia menjadi patah arang. Sebelum Elisa berangkat, ia menitipkan sebuah karangan bunga berisi uang 100 dolar-nya yang terisisa agar Elisa segera mengirim kabar padanya begitu tiba di Belanda.
Kelebihan
dan kekurangan buku
1. Kelebihan
buku
- Cover pada buku ini menarik.
- Ada beberapa kalimat analogi sehingga pembaca tidak bosan dalam membaca dan dapat meningkatkan daya imajinasi.
- Bahasa yang digunakan lugas, mudah untuk dipahami.
- Alur yang digunakan sangat menarik dan tidak membuat bosan.
- Kualitas cetakan baik.
2. Kekurangan buku.
Ada banyak kata ulang sehingga membuat kebingungan ketika akan membaca kalimat berikutnya.
#Unsika
#UniversitasSingaperbangsaKarawang
#PBSIUnsika
#nulisbersama
